Lowongan Dosen Tetap Teknik Mesin

Jurusan Teknik Mesin Universitas Darma Persada membutuhkan dosen tetap dengan kualifikasi sebagai berikut :

  1. Minimal berijazah S2, diutamakan S3  ( harus linear)
  2. Usia maksimal 35 tahun, jika mempunyai kepangkatan akademik atau S3 maksimal 40 tahun.
  3. Jurusan mesin peminatan otomotif dan Struktur

Lamaran ditujukan kepada : Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Darma Persada, Jln. Radin Inten II, Pondok Kelapa, Jaktim 13450, atau via email ke : yefrichan2000@gmail.com.

KURIKULUM TEKNIK MESIN 2016 UNIVERSITAS DARMA PERSADA

INFORMASI JURUSAN TEKNIK MESIN

Jurusan Teknik Mesin berada dibawah Fakultas Teknik yang dipimpin oleh seorang Dekan dengan dibantu oleh 2 orang Pembantu Dekan. Jurusan Teknik Mesin Universitas Darma Persada didirikan berdasarkan Surat Keputusan Dirjen DIKTI No.: 1178/D/T/2003 tentang Ijin Penyelenggaraan Program Studi tertanggal 10 Juni 2003 untuk jenjang program Sarjana (S1).

 VISI

Menjadi program studi Teknik Mesin yang terkemuka di Indonesia dengan keunggulan pada bidang , Desaian, Manufaktur dan Energi Terbarukan pada tahun 2018 yang dilandasi dengan semangat monozukuri, yang memberi kontribusi bagi Bangsa dan Negara.

Continue reading

Teknik Mesin Unsada Menerima Bantuan Lab.Motor Bakar & Transmisi dari Toyota.

Jurusan Teknik Mesin Universitas Darma Persada menerima bantuan Laboratorium Motor Bakar & Transmisi dari Toyota Manufacturing Indonesia melalui program CSRnya, bantuan tersebut terdiri dari :

  1. Alat Praktikum Motor bakar bensin dilengkapi dengan engine diagnostic.
  2. Engine Stand
  3. Sistem Transmisi

Dengan adanya bantuan ini maka laboratorium Jurusan Teknik Mesin sekarang mempunyai 5 buah laboratorium yaitu :

  • Laboratorium Desain Manufaktur.
  • Laboratorium Material Teknik
  • Laboratorium Fenomena Dasar Mesin
  • Laboratorium Prestasi Mesin
  • Laboratorium Motor Bakar dan Transmisi

20160725_130851

Terima Kasih Toyota, semoga bermanfaat untuk kemajuan anak negeri tercinta.

Teknik Mesin Universitas Darma Persada Mendapatkan Akreditasi B

Selamat buat Jurusan Teknik Mesin Unsada atas pencapaian akreditasi B Berdasarkan SK : 972/SK/BAN-PT/Akred/S/IX/2015, Terima Kasih buat semua pihak yang telah ikut membantu, terutama sekali terima kasih untuk Dekan Fakultas Teknik, Alumni Teknik mesin Unsada, Mahasiswa teknik mesin dan Dosen-dosen teknik mesin yang selalu solid dalam membangun Teknik mesin. Semoga hasil ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

Flowmeter

Flowmeter adalah alat untuk mengukur jumlah atau laju aliran dari suatu fluida yang mengalir dalam pipa atau sambungan terbuka.

Flowmeter umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu alat utama dan alat bantu sekunder. Alat utama menghasilkan suatu signal yang merespons terhadap aliran karena laju aliran tersebut telah terganggu. Alat utamanya merupakan sebuah orifis yang mengganggu laju aliran, yaitu menyebabkan terjadinya penurunan tekanan.
Alat bantu sekunder menerima sinyal dari alat utama lalu menampilkan, merekam, dan/atau mentrasmisikannya sebagai hasil pengukuran dari laju aliran.

Berikut bahan lengkap mengenai flowmeter : Fluid Flow Measurement

Kurikulum Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Mahasiswa Harus Punya Keahlian Khusus Yang Bisa Bersaing Di Dunia Kerja

Selama ini, jamak pandangan masyarakat bahwa selembar ijazah pendidikan tinggi, terutama bukti gelar sarjana, merupakan kunci utama untuk mendapatkan pekerjaan impian. Namun, seiring makin banyaknya sarjana yang diproduksi institusi pendidikan tinggi, selembar ijazah tak cukup lagi.

Gejala ijazah pendidikan tinggi bukan jaminan mengantarkan ke dunia kerja setidaknya tergambar dalam data yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi. Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu alias bergelar sarjana. Dari jumlah itu, jumlah penganggur paling tinggi, 495.143 orang, merupakan lulusan universitas yang bergelar sarjana.

Pengangguran terdidik itu (baik berijazah diploma maupun strata 1) meningkat dibandingkan tahun 2013 dengan persentase penganggur lulusan perguruan tinggi sebesar 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

Sejumlah ahli pendidikan tinggi, seperti Wardiman Djojonegoro, dalam pemberitaan di Kompas, menyebutkan, terjadinya pengangguran terdidik merupakan kelindan berbagai faktor, seperti kurangnya lapangan pekerjaan, pertumbuhan perguruan tinggi dan program studi begitu pesat, serta minimnya kompetensi para lulusan atau tidak sesuainya kompetensi dengan kebutuhan pengguna tenaga kerja.

Faktor ketersediaan lapangan kerja merupakan hal kompleks tersendiri yang, antara lain, terkait dengan ketersediaan investasi memadai untuk menyerap tenaga kerja dari lulusan berbagai program studi, kinerja ekonomi nasional, dan kondisi ekonomi global.

Penyebab lain, seperti pengendalian mutu institusi pendidikan tinggi dan pembekalan kompetensi lulusan, sesungguhnya dapat lebih dikendalikan. Jangan sampai, ketika mencari pekerjaan, individu dalam usia produktif tidak memiliki keahlian tertentu sehingga dianggap tidak menarik bagi pencari kerja.

Kompetensi

Kesenjangan kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja sebenarnya sudah ada jalan keluar dengan adanya acuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia. KKNI menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan.

Dengan KKNI, ijazah bukan segala-galanya. Berbekal kompetensi yang dimiliki, seseorang bisa memperoleh status setara dengan pemilik ijazah yang memperoleh lewat jenjang pendidikan tertentu.

Tentu saja pengelola perguruan tinggi harus mengubah paradigma, dengan tidak berpuas diri hanya memberikan ijazah kepada mahasiswa tanpa melihat kemampuan dan keterampilan alumninya.

Terbitnya KKNI menjadi kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia. Dengan demikian, kebutuhan pengguna dengan kompetensi tertentu lulusan perguruan tinggi dapat lebih didekatkan.

Perguruan tinggi juga perlu didorong bekerja sama dengan para pengusaha dalam membuka kesempatan magang bagi mahasiswa ataupun alumni yang baru lulus. Para lulusan setidaknya dapat memiliki secuplik gambaran nyata tentang dunia kerja yang akan dimasuki.

Satu hal yang perlu diluruskan ialah sering tercampurnya antara tujuan pendidikan tinggi yang bersifat akademis dan menciptakan manusia berpikir ilmiah dengan pendidikan vokasi yang bertujuan menyiapkan tenaga terampil siap kerja. Individu kadang berpikir bahwa dengan memegang gelar sarjana sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan untuk bekerja. Padahal, tidak demikian.

Supaya jumlah penganggur bergelar sarjana berkurang, pemerintah perlu mendorong pengembangan pendidikan vokasi. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi berencana memprioritaskan pengembangan pendidikan vokasi.

Data Dikti menyebutkan, ada 1.357 akademi, 2.508 sekolah tinggi, 255 politeknik, dan 124 institut. Adapun universitas hanya ada 504. Artinya, mayoritas perguruan tinggi di Indonesia bergerak di bidang vokasi. Akan tetapi, jumlah program studi (prodi) vokasi hanya 20 persen dari total prodi yang ada. Dengan menambah program vokasi, diharapkan tercipta tenaga kerja terampil yang bisa segera diserap pasar.

Namun, perlu diingat, proses pendidikan di perguruan tinggi tak sekadar pencetak tenaga kerja dan berorientasi pasar. Terdapat sisi dan fungsi penting lain dari penyelenggaraan pendidikan tinggi, termasuk yang bergerak di pendidikan vokasi.

Seperti tertuang dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak ?serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam ?rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi lain ialah mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan ?kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma. Pendidikan tinggi juga berfungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai-nilai humaniora.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi tak hanya persoalan investasi individu untuk dapat bekerja, tetapi juga menentukan kesejahteraan bangsa dan peradabannya. (kompas.com)

Bagaimana Nasib Perguruan Tinggi Dibawah MENRISTEK

Mungkin ini pertanyaan besar saat ini bagi kalangan perguruan tinggi, setelah beberapa dekade perguruan tinggi dibawah mendikbub. Harapan besar Presiden Jokowi untuk dapat mengarahkan perguruan tinggi melakukan riset yang terintegrasi sesuai dengan bidang keilmuannya sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang tidak hanya dalam bentuk kertas tapi juga dalam bentuk sebuah produk yang bisa membanggakan bangsa ini.

Selama ini banyak hasil riset yang hanya tertuang dalam bentuk  karya tulis berupa jurnal, buku ,proceeding dan baru sedikit yang bisa dimplementasikan, akhirnya banyak hasil penelitian anak bangsa yang dijual keluar kenegara yang bisa mewujudkan karyanya tersebut.

Harapan besar Presiden Jokowi ini tentunya juga merupakan harapan para peneliti dinegeri ini, jangan sampai ini hanya sebuah wacana, atau sebuah pembagian kewenagan kementrian saja yang pada akhirnya nasib peneliti tidak akan pernah berubah ………